"Ayo anak anak kita belajar!", coba bandingkan dengan ajakan "Ayo anak anak kita bermaimn!". Menurut Anda, manakah ajakan yang lebih direspons dengan penuh semangat oleh anak anak? Umumnya anak anak akan lebih menyambut dengan gembira ajakan untuk bermain. Mengapa bisa berbeda seperti itu? Apa yang ada di benak anak anak saat mendengar ajakan belajar? Membosankan, bikin stres, melelahkan, pusing, seperti itukah?
Bayangkan jika kegiatan belajar sama dengan kegiatan bermain. Pasti belajar menjadi hal yang begitu menggairahkan dan menggembirakan bagi anak anak. Tidak ada orang tua lagi yang harus memaksa anaknya belajar atau memberi hukuman bila anaknya tidak mau belajar.
Belajar seharusnya menjadi kegiatan yang menyenangkan bagi anak anak bukan malah membuat anaka bosan apalagi tertekan (stres).
Hasrat belajar itu telah dimiliki setiap manusia sejak dia dilahirkan dari rahim ibunya. Bayi belajar mengenali aroma tubuh ibunya saat menyusu ke ibunya. Bayi belajar tengkurap, merantgkak lalu berjalan walau sering terjatuh atau terpeleset . Tanpa orang tuanya harus menyuruhnya belajar bayi yang normal akan dengan sendirinya melewati tahapan belajar tersebut.
Setelah usia balita, anak tak pernah lelah dan bosan untuk belajar mengenal lingkungannya, benda dan orang di sekitarnya bahkan karena kepolosannya, sang anak itu sering memasukkan obat nyamuk, kabel listrik, atau benda benda berbahaya lainnya sebagai cara dia mengenali sekitarnya.
Lalu apa yang terjadinya saat dia sudah besar, Kemana hasrat belajarnya yang menggebu gebu itu.Tanpa disadari para orang dewasa terutama irang tuanya dan guru di sekolahnya lah yang justru tak disengaaj sedikit banyak telah mematikan minat belajar anak. Hal itu terjadi di saat orang dewasa memiliki pandanagn yang berbeda dengan anak anak mengenai konsep belajar. Bagia nak anak, dunia mereka adalah dunia bermain. Masa bermain mereka merupakan kesempatan mereka untuk belajar mengenali hal baru di sekelilingnya. Inilah konsep belajar yang sering tak disetujui oleh para orang dewasa, yang menilai belajar adalah duudk diam di bangku mendengarkan penjelasan guru atau mengikuti perintah guru.
Saat ada anak yang termasuk katagori gaya belajar kinestetik, berlari kesana kemari di dalam kelas sementara gurunya terus menyuruhnya duduk diam mendengarkan penjelasan gurunya. Maka yang terjadi berikutnya adalah sang anak akan tertekan atau stres bila potensinya dimatikan, terlebih bila anak tersebut justru diberi hukuman oleh gurunya yang menilai tindakan sang anak dikatagorikan sebgaai kenakalan atau ketidakpatuhan perintah guru.
Begitupula saat ada anak lain yang menonjol bakat dan minatnya dalam hal menggambar dan kurang berpotensi dalam menyanyi. namun sang guru tak terlalu memberi pujian atau malah membuatnya down dengan memaksanya menyanyi, kegiatan yang snagat tidak disukai sang anak.maka bila anak anak seperti ini dan anak lainnya dipaksa belajar dengan konsep belajar orang dewasa, yang terjadi selanjutnya adalah anak akan merasa tertekan, atau merasa bosan bahkan potensi menjadi terkubur.
Tentu kondisi seperti itu bukanlah hal yang diinginkan para orang tua amaupun guru. Karena itu, sebaiknya orang dewasa nya lah yang mulai menyamakan konsep belajar versi orang dewasa dengan versi para anak tersebut. Kalau ini yang terjadi maka tak ada lagi orang tua yang perlu teriak " nak, ayo belajar ,". Yang ada malah, "ma pa yuk belajar lagi yuk".
Selamat Mencoba!
Tuesday, 5 August 2014
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment